ATLANTIS DAN KISAH PANJANG NUSANTARA


Om Swastyastu
“Semoga pikiran yangbaik akan datang dari segala penjuru”

Pernah dengar tentang sebuah negeri dengan peradaban super tinggi yang kemudian dikatakan hilang dalam lautan dan negeri itu disebut dengan Nama Atlantis?? Pernah gak denger juga tentang adanya perdebatan tentang keberadaan Atlantis hingga akhirnya ada pendapat yang mengatakan bahwa Atlantis itu berada di Indonesia? Lalu dimakah Atlantis itu sebenarnya? Saya ingin berbagi sedikit informasi pada kawan-kawan tentang Atlantis ini dengan pendekatan Kisah Cendikiawan Nusantara kita yang bernama Eyang Sabda Palon dan Naya Genggong.
 sumber gambar : http://1.bp.blogspot.com/-dcDU8-byEVY/TyX_NRn55oI/AAAAAAAAANs/Ab6oPnZ7Cmc/s1600/Atlantis20m.jpg
Pertama, kita akan bahas dulu mengenai asal muasal istilah Atlantis ini bisa muncul di masyarakat. Atlantis pertama kali dikemukakan oleh seorang filusuf yang bernama Plato dalam buku Timaeus dan Critias. Dalam bukunya, Plato menulis bahwa Atlantis terhampar "di seberang pilar-pilar Herkules", dan memiliki angkatan laut yang menaklukan Eropa Barat dan Afrika 9.000 tahun sebelum waktu Solon, atau sekitar tahun 9500 SM. Setelah gagal menyerang Yunani, Atlantis tenggelam ke dalam samudra "hanya dalam waktu satu hari satu malam". Untuk lengkapnya mengenai penjabaran atlantis oleh Palto bisa kawan-kawan baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Atlantis atau tinggal search saja link yang berkaitan dengan Atlantis. Banyak sekali pendapat yang hingga kini masih menimbulkan perdebatan di masyarakat mengenai kebenaran Atlantis. Apakah memang benar Atlantis itu pernah ada di dunia ataukah Atlantis itu hanya ada di impian Plato. Lalu, kalau memang Atlantis itu benar pernah ada di dunia, dimanakah tempat keberadaan peradaban maju tersebut? Untuk itu, saya (selanjutnya akan saya sebut sebagai penulis) akan ajak kawan-kawan sekalian sebagai pembaca di sini untuk mengenyampingkan dahulu pendapat-pendapat para ilmuan tersebut dan menyimak sekali lagi suatu warisan leluhur yang sebenarnya mengandung suatu informasi yang sangat kuat untuk mengguak kebenaran mengenai keberadaan peradaban Atlantis di dunia ini. Penulis akan ajak pembaca untuk menyimak kembali mengenai kisah Sabda Palon dan Naya Genggong yang tidak banyak orang tertarik untuk mendalaminya. Kita akan menyimak sedikit mengenai sepenggal kisah yang ada saat Sabda Palon dan Naya Genggong ada di jaman Majapahit sebagai suatu pendekatan sederhana mengenai keberadaan peradaban Atlantis di dunia ini.

Lalu, apakah hubungannya Atlantis dengan Kisah Sabda Palon dan Naya Genggong?
Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan dua punakawan yang berada pada zaman kerajaan Majapahit. Dua punakawan tersebut dikatakan sebagai dua pengawal peradaban di nusantara yang menghantarkan nusantara mengalami perubahan besar pada masa itu. Kenapa Sabda Palon dan Naya Genggong dikatakan sebagai pengawal peradaban di nusantara? Jika Pembaca ingin lebih mengetahui asal-usul Sabda Palon dan Naya Genggong, cobalah cari informasi mengenai Dhang Hyang Agastya dan Wasistha. Namun, penulis akan coba berikan sedikit penjabaran mengenai hal tersebut :

"Hyang Agastya  merupakan perwujudan dari manifestasi Tuhan yang dapat mengambil segala jenis bentuk di alam ini. Hyang Agastya memiliki tugas untuk  menjaga Nusantara. Beliau ditemani oleh Hyang Wasistha. Dua manifestasi tersebut secara turun-temurun bereinkarnasi dan turun di peradaban Nusantara untuk menjaga Nusantara. Reinkarnasi dari Hyang Agastya dan Wasistha yang sangat terkenal hingga sekarang ialah Sabda Palon dan Naya Genggong. Hyang Agastya turun menjadi Sabda Palon dan Hyang Wasistha turun menjadi Naya Genggong. Keduanya memiliki suatu kedekatan, yang tak dapat dijelaskan dengan bahasa ilmiah ataupun bahasa keseharian, dengan Tuhan. Keduanya terpisah namun satu. Hanya jiwa yang telah memiliki tingkat spritualitas yang tinggilah yang dapat memahami hal tersebut. Eyang palon sering dikaitkan dengan sosok “Satrio Piningit” yang sangat terkenal di masyarakat Kejawen. Beliau juga disebut dengan sosok Semar karena beliau memiliki sifat yang samar namun ada. Kisah Sabda Palon berhenti di runtuhnya Majapahit.
Dikisahkan bahwanya, saat terjadinya percakapan di Blambangan (Banyuwangi), antara Prabu Brawijaya V dengan Eyang Sabda Palon, Eyang Palon kemudian menghilang. Eyang Palon dikatakan menghilang setelah menolak ajakan Prabu Brawijaya V untuk pindah keyakinan. Namun, sebelum eyang palon menghilang, beliau sempat menjabarkan sebuah ramalan mengerikan tentang Nusantara. Beliau juga berjanji akan kembali lagi di Nusantara setelah 500thn semenjak saat itu (perkiraannya pada tahun 2056).  Eyang palon menghilang dan dikatakan pindah ke Pulau Bali. Beliau hijrah ke Bali dan kemudian bereinkarnasi menjadi Dhang Hyang Nirartha atau Dhang Hyang Dwijendra atau disebut juga sebagai Pandhita Sakti Wawu Rawuh. Hyang Nirartha kemudian sangat dikenal oleh masyarakat Bali karena jasa beliau yang memberikan petunjuk-petunnjuk tentang Agama dan Kehidupan, dan dihormatii hingga sekarang"

Kita tinggalkan sejenak mengenai asal muasal sebutan sebagai Penjaga Nusantara pada Sabda Palon dan Naya Genggong, lalu menyimak kembali mengenai kisah saat Sabda Palon dan Naya Genggong di zaman Majapahit, yakni tepatnya saat Zaman Kepemimpinan Prabhu Kertabumo :


Kisah itu berawal saat munculnya mimpi Prabu Kertabumi, Raja Majapahit pada saat itu, beliu memimpikan mengenai sesosok orang tua dengan perut buncit, berjenggot tebal dan runcing, tangan kanannya membawa Aksamala (Tasbih), tangan kirinya membawa Kamandhalu (kendi berisi air kehidupan). Sosok itu duduk di bawah pohon dan memberikan titah kepada tiga anaknya untuk membangun sebuah parahyangan di sebelah Timur Yawadwipa (Pulau Jawa) yakni di Balidwipa (Pulau Bali). Sosok itu merupakan sosok dari Hyang Agastya.
Saat kegelisahannya mengenai mimpi tersebut, beliau menceritakan mimpinya tersebut kepada seorang Acharya bernama Wiryatama. Setelah diceritakan, akhirnya sang acharya tahu bahwa mimpi sang prabu adalah sebuah petunjuk baginya untuk mengisahkan suatu kisah panjang mengenai peradaban di Nusantara kepada prabu tersebut. Sang Acharya Wiryatama merupakan keturunan Acharya yang secara turun-temurun menjaga kisah panjang nusantara. Kisah tersebut beliau simpan hingga datang suatu saat dimana seorang raja nusantara akan datang setelah mendapatakan petunjuk-petunjuk alam dari Hyang Agastya. Dalam kisah sang acharya tersebutlah, kita akan dikisahkan mengenai suatu peradaban kuno sebelum majapahit, yang ada di tanah nusantara, dan bernama Ataladwipa.
Ataladwipa ada pada zaman lima belas ribu tahun (semenjak saat itu), dimana wilayahnya membentang luas sepanjang daerah Indonesia sekarang ini hingga kamboja dan sekitarnya. Wilayah Ataladwipa memiliki lautan yang luas dan memiliki daratan sepanjang kamboja hingga Pulau Lombok terus ke timur yang menjadi satu kesatuan. Ataladwipa telah dihuni oleh banyak beberapa ras manusia (tidak hanya ras manusia seperti sekarang ini). Pembaca jangan kaget saat mendengar bahwa pada zaman peradaban Ataladwipa manusia yang hidup pada saat itu memiliki beragam ras dan tidak hanya  ras manusia seperti kita ini. Di sini kita akan mendapatkan suatu kecocokan sejarah, bahwanya ras manusia dengan kulit ungu seperti Krisnha, yang merupakan Awatara Dewa Wisnu yang ada di Kisah Mahabrata, memang dulu pernah ada dan ras seperti itulah yang diperkirakan hilang semenjak Ataladwipa hancur.
Wilayah Ataladwipa dihuni oleh manusia-manusia yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Manusia pada saat itu memiliki pengetahuan yang luar biasa maju di berbagai bidang. Manusia juga pada saat itu telah memiliki kemampuan spiritual yang luar biasa. Mereka dapat mempergunakan tubuh mereka dengan sangat baik. Ataladwipa memiliki arsitektur mengagumkan dan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, bahkan jauh lebih mengagumkan dengan bangunan pencakar langit yang ada sekarang. Kereta-kereta terbang sudah ada pada zaman itu. Ataladwipa sangat makmur, indah dan berjaya pada zaman itu.
Namun, Kemakmuran yang demikian ternyata telah membutakan penghuni Ataladwipa. Sifat congkak, tamak, dan buruk telah menghinggapi para penghuninya. Ataladwipa ditakuti oleh banyak negara lain. Hal ini menyebabkan Ataladwipa menjadi semena-mena dan menakutkan banyak negara lain. Perbuatan-perbuatan tersebut akhirnya terus menumpuk menjadi suatu karma yang tidak baik sehingga pada akhirnya Bathara Hyang Guru (Siwa) murka dan akhirnya mem-pralayakan (menghancurkan) Ataladwipa.
Pada saat pralaya tersebut, gunung-gunung berapi memuntahkan seluruh isinya dengan sangat luar biasa hebatnya. Gempa yang bersusulan dan tiada hentinya. Kehancuran ini akhirnya ditutup dengan naiknya air samudra yang akhirnya menyapu dan menenggelamkan Ataladwipa. Penulis sarankan pembaca untuk menyimak Film Layar Lebar yang berjudul “2012”, gambaran mengenai masa pralaya Ataladwipa dapat dibayangkan seperti itu. Letusan gunung berapi, gempa dahsyat dan ditutup dengan adanya tsunami merupakan gambaran umum dari punahnya suatu peradaban. Banyak keyakinan sering mengkisahkan mengenai kehancuran suatu peradaban yang ditutup dengan adanya tsunami dan memusnahkan hampir seluruh kehidupan, namun tetap menyisakan beberapa kehidupan untuk tetap melanjutkan kehidupan kembali dan memulai lagi dari awal.
Samudra menenggelamkan seluruh permukaan daratan. Pada guncangan pertama ini (empat belas ribu tahun yang lalu sejak saat dikisahkan oleh sang acharya), daratan mulai banyak yang tenggelam dan berkurang. Banyak penduduk Ataladwipa yang musnah dan masih beberapa yang tersisa. Kemudian, terjadi guncangan kedua (pada sebelas ribu tahun yang lalu sejak saat sang acharya berkisah) dan untuk ketiga kalinya (pada delapang ribu tahun yang lalu sejak saat dikisahkan oleh sang Acharya). Bencana besar ini akhirnya benar-benar memusnahkan manusia-manusia dengan sifat yang tidak baik dan akhirnya menyisakan beberapa manusia dengan kebaikan yang kemudian akan melanjutkan kehidupan di dunia. Nusantara kemudian mulai stabil, namun akibat bencana tersebut, kesatuan nusantara akhirnya terpisah-pisah akibat adanya daratan yang tenggelam dan membentuk suatu gugusan nusantara yang jauh lebih mirip dengan sekarang. 
Begitulah kisah mengenai sebuah peradaban kuno yang pernah dikisahkan saat zaman Majapahit. Peradaban tersebut sangat maju dan jauh lebih maju dari sekarang. Namun, akibat sifat buruk yang dimiliki oleh penghuninya, akhirnya peradaban maju ini musnah.

Setelah itu, mari kita lakukan pendekatan sederhana antara Kisah Ataladwipa dan Atlantis :
Pertama,
Kisah mengenai keberadaan Ataladwipa di daratan Nusantara pada puluhan ribu tahun yang lalu memiliki suatu penjabaran ciri yang sangat mirip dengan Atlantis. Atlantis dikatakan sangat kuat pada saat itu dan memiliki ambisi untuk menyerang negara-negara lain. Plato menyebutkan bahwa Atlantis pernah berniat menyerang Yunani. Atlantis dimusnahkan oleh bencana alam dan akhirnya ditenggelamkan oleh samudra, dan begitu pula yang terjadi dengan Ataladwipa.
Kedua ,
Kita lihat secara harfiah, kata "atala" dalam ataladwipa dan "atlant" dalam atlantis memiliki kemiripan cara pelafalan namun ditulis secara berbeda. Penulis sendiri tidak heran jika kata atala dan atlant memiliki kemiripan cara pelafalan namun dengan tulisan yang berbeda, mengingat orang yang pertama kali menjelaskan mengenai keberadaan Atlantis adalah Plato yang sudah tentunya memiliki perbedaan cara ucap dan berbicara dengan orang timur (Nusantara).
Lalu, coba kita pisah kata “Ataladwipa” menjadi “Atala” dan “Dwipa”. Dwipa memiliki makna sebuah pulau. Jadi, Ataladwipa merupakan sebuah pulau yang bernama Dan  perlu kawan-kawan ketahui pula bahwanya Atalantis secara harfiah dapat dilihat sebagai berikut :
“Atlantis, Atalantis, atau Atlantika (bahasa Yunani: Ἀτλαντὶς νῆσος, "pulau Atlas")” (www.wikipedia.com)
Jadi jika dilihat dengan arti kata, Atlantis dan Ataladwipa sebenarnya memiliki makan sebuah Pulau yang bernama Atala atau Atlas. 

Jadi kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa tanah kelahiran kita ini yakni Nusantara merupakan suatu tempat yang telah mengalami berbagai macam pergejolakan dan telah dihuni oleh beberapa peradaban. Kisah Ataladwipa atau Atlantis yang memulai perdaban dari nol hingga akhirnya mencapai puncak kejayaannya dan akhirnya mengalami kemerosotan dan akhirnya hancur. Hancurnya peradaban tidak akan memutuskan rantai kehidupan di dunia ini, karena kehancuuran tersebut akan menyisakan banyak sekali pembelajaran untuk kehidupan selanjutnya. Hal itu terbukti dengan berlanjutnya kehidupan di tanah nusantara hingga akhirnya kembali menemukan kejayaannya di zaman Majapahit. Namun, sekali lagi kita akan melihat suatu proses roda kehidupan bekerja, majapahit setelah menemukan masa keemasannya, akhirnya majapahit mengalami kemerosotan dan akhirnya hancur. 

Di sini kita dapat petik suatu hikmah, bahwannya peradaban di dunia ini layaknya seorang manusia. Terlahir dengan nol, manusia terus belajar untuk hidup hingga mencapai puncak keberhasilannya untuk hidup dan akhirnya akan menemukan titik kemerosotan dan akhirnya mati. Perkembangan peradaban khususnya di Nusantara saat ini mungkin kita dapat katakan sedang mengalami kemerosotan. Tapi, ingatlah bahwa adakalanya nanti peradaban kita ini akan bangkit kembali dan mencapai puncak keemasannya. Ingatlah kembali janji Sabda Palon yang penulis sempat sampaikan, beliau akan kembali nanti di Nusantara untuk mengembalikan kejayaan nusantara. Prediksi angka-angka tahun Saka dan Masehi mengatakan bahwa Saba Palon akan kembali pada tahun 2056, tetapi ini tetaplah sebatas sebuah prediksi.  Namun, jika memang ini benar terjadi pada tahun 2056, kita harusnya sadar dan berbangga diri karena kitalah sebagai generasi yang akan menghantarkan nusantara untuk mencapai punjak kejayaannya kembali nanti. Untuk itu, kita harus selalu meningkatkan pengetahuan kita dan kemampuan spritualitas kita. Karena penulis ingatkan kembali, sesuai dengan cerita-cerita saat Ataladwipa dan Majapahit, seorang manusia akan dapat membuat suatu kesuksesan hanya dengan jalan menyeimbangkan otak dan hatinya (pengetahuan dan spritualitasnya).

Begitulah yang penulis ingin sampaikan semoga bermanfaat. Untuk pembaca yang ingin mengetahui lebih lengkap tentang Kisah Sabda Palon dan Naya Genggong, carilah literatur-literatur yang berkaitan karena sebenarnya kisah nusantara ini akan tidak bisa kita jabarkan secara terpisah-pisah dan harus dirangkai satu persatu. Di setiap penggalan itu, sosok Eyang Palon dan Naya Genggong akan selalu hadir untuk menjaga Nusantara. Informasi ini penulis sebagain besar dapatkan dari blog-blog dan artikel terkait dan dari Buku yang berjudul Sabda Palon (1 dan 2) karya Damar Shashangka yang kemudian penulis rangkai menjadi kesatuan yang terkait dengan Kisah Atlantis. 
Marilah terus belajar dan menjadi berguna untuk masyarakat dan komunitas kita, hormat penulis "...
iwayanbayudiatmika


2 comments :

  1. Salam persahabatan dari "Bhumi Majapahit", uraian anda di atas cukup membuktikan bahwa Nusantara adalah wilayah Atlantis yang hilang (menurut Plato). Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam Rahayu, Dumogi Tuhan memberkati kita semua. Mhn maaf baru membalas komentar saudara saya Jerry. Terima Kasih Banyak atas apresiasinya dan waktu yang telah disediakan untuk membaca artikel ini. Saya pribadi berharap kesadaran ttg isi artikel ini kelak terus dapat dilanjutkan ke banyak orang Indonesia dan keturunan kita kelak. Kepercayaan Diri Bangsa ini harus dipupuk yang kuat, lagi dan lagi. Sekali lagi terima kasih. Rahayu

      Delete

 

PENULIS DALAM KATA


"Saya Orang yang Hebat dengan Mimpi yang Hebat karena Tuhan yang Hebat melahirkan saya untuk mengubah Dunia ini menjadi lebih Hebat"

I Wayan Bayu Diatmika dalam Dream Clothing Company, 2011

Temukan saya di Instagram

Jepret-Jepret Lensa Nakal

Temukan saya di Google

Bangga Menjadi Bagian Indonesia

Bangga Menjadi Bagian Indonesia
Indonesia merupakan sebuah negara yang sangat kaya. Alam yang Indah dengan Hasil Alam yang mellimpah. Iklim yang sangat baik untuk hidup. Manusia yang berlimpah dengan bakat dan kemampuan yang luar biasa. Budaya yang sangat maju, dan jauh lebih maju dibandingkan dengan negara yang mengaku sebagai negara yang maju dan adi daya saat ini. Kemampuan Spiritual di Indonesia juga sangat tinggi. Tuhan benar-benar dipahami dan diketahui oleh Leluhur Indonesia. Itulah Manusia, Alam, Budaya dan Tuhan yang selalu membuat kebanggan menjadi bagian dari Indonesia.

Tuhan, Manusia, Alam

Tiga hal yang harus diseimbangkan dalam mencapai kebahagiaan ialah Tuhan, Manusia dan Alam. Konsepsi Tertingginya ialah berbakti kepada Tuhan. Bakti tersebut turun ke dalam dua konsep berikutnya ialah menjaga hubungan baik dengan Manusia dan Alam. Muara dari pemahaman ini ialah tentang seberapa baik manusia memahami dirinya sendiri.

Kebenaran?

Kebenaran adalah Kepedulian. Saat engkau berbuat sesuatu kepada orang lain dengan berlandaskan pada Kepedulian maka di sana terdapat Kebenaran. Saat engkau berbuat Baik sekalipun kepada orang lain namun dengan berlandaskan menginginkan suatu balasan pahala dari Tuhan maka perbuatan tersebut telah menjauhi substansi kebenaran. Dimana kepedulian ditegakkan menjadi landasan perbuatan maka di sana kebenaran telah tumbuh sebagai Pohonnya. OM, Santi

TWEET @IWAYANBAYU

YUK KUNJUNGI ASESORISMU DI SINI

 Luh Pernak-Pernik
Salah satu brand lokal yang mencoba untuk memberikan jiwa indie dalam produknya, Luh Pernak-pernik hadir untuk memberikan anda aksesoris untuk mempercantik penampilan harian anda. Luh PernakPernik menawarkan produ-produk ekonomi berupa kalung dan perhiasan yang mampu meningkatkan kepercayaan diri anda. Luh PernakPernik fokus memberikan produk yang memuaskan sehingga dalam setiap produknya, Luh PernakPernik selalu mengemas produk dalam bentuk box perhiasan eksklusif yang mampu membuat anda semakin menyayangi perhiasan anda. Saat ini, Luh PernakPernik telah mengembangkan usahanya dengan bekerja sama dengan beberapa pengerajin perhiasan khas bali sehingga produk yang ditawarkan oleh Luh PernakPernik juga menyediakan produk-produk yang bernuansa adat bali dan nusantara indonesia.  

SVAHARYA si Karya Anak Bangsa

SVAHARYA si Karya Anak Bangsa
Kekuatan Seni dan Produk Seni Indonesia sangat kuat, pantas untuk disandingkan dengan produk mancanegara. Keinginan Anak Bangsa yang satu ini sangat kuat untuk mengangkat kain batik, endek, dan kerajinan kain asli Indonesia lainnya untuk menjadi produk-produk yang berkualitas dan menjual. Dengan konsep produksi yakni satu produk hanya dimiliki oleh satu orang saja, pembeli mana yang tidak ingin memiliki produk yang eksklusif, berkualitas, dan hanya ada satu di dunia. Mari temukan produk tersebut di sini, di Svaharya, www.svaharya.com